Terpanggil Eksplorasi Potensi Wisata

Terpanggil Eksplorasi Potensi Wisata

Potensi ekonomi wisata di tengah Lahat luar biasa, dalam bentuk alam yang indah ataupun peninggalan prasejarah. Salah satu yang menonjol dan menjadi kekaguman masyarakat Lahat adalah Gunung Telunjuk yang sering dijadikan karakter khas alam Lahat. Sementara itu, Lahat terdapat ribuan matu menhir. Dan itu tak lepas dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya masa lampau.

Menyadari potensi wisata itu, Pemerintahan Lahat di bawah Aswari itulah yang kemudian mengeksplorasi wilayah alam dan peninggalan sejarah itu dijadikan obyek wisata. Arahnya jelas: meningkatkan pendapatan daerah, di samping efeknya positif bagi pendapatan masyarakat. Dengan arah itu, Aswari bukan hanya mempercantik area-area wisata itu, tapi juga berusaha memperjuangkan anggaran untuk kepentingan peningakatan obyek wisata itu. Bahkan, atas nama kepentingan pengembangan ekowisata, Aswari terpanggil memanfaatkan jembatan di Lematang dipercantik dan ditambah dengan sarana perhotelan dan pusat perbelanjaan. Sebuah strategi untuk menggiring masyarakat ke arena wisata buatan itu.

Kepedulian dan kejelian itu membuahkan hasil positif-nyata. Karenanya, masyarakat saksikan bahwa sejumlah obyek wisata di seputar Lahat menjadi kian nampak terpelihara, terdukung dengan sejumlah fasilitas. Bahkan, sejalan dengan sekitar Gubung Telunjuk terdapat danau, maka seorang Aswari bahkan hanya merapikan arealnya, tapi menabur benih dan ikan-ikan kecil dalam jumlah puluhan ton.

Inovasi kebijakan itu sekaligus berdimensi pemanfaatan areal danau sebagai pusat pengembangbiakan perikanan. Dengan pola kebijakan bebas mancing, maka danau di sekitar Gunung Telunjuk menjadi pusat wisata pancing. Hal ini jelaslah mengundang kegembiraan tersendiri bagi para pihak yang berhobi mancing. Areal danau Gunung Telunjuk menjadi magnet tersendiri.

Sememtara itu, di sekitar area batu-batu menhir, pun Aswari merancang bagaimana peninggalan prasejarah itu menjadi bermakna, baik secara ekonomi ataupun akademik. Hal ini di satu sisi menggambarkan sikap kejelian dalam menatan potensi ekonomi yang berbasis wisata. Di sisi lain, Aswari menyadari bahwa dari situs-situs dan atau peninggalan prasejarah itu masyarakat Lahat mengenali kebesaran Lahat tempo dulu. Dari aspek historis ini, serorang Aswari seolah menyampaikan pesan: harus bangga menjadi orang Lahat dan atau masyarakat Sumsel pada umumnya. Ada ukiran sejarah yang dicatat dunia sampai ke negeri China, bahkan Eropa.

Yang perlu kita catat lebih jauh, bagaimana kejelian dan kesadaran seorang Aswari terhadap potensi ekonomi wisata yang tergelar di semenangjung Sumatera Selatan (Sumsel)? Berbekal dari kepedulian dan kejelian yang sudah ditunjukkan seorang Aswari selagi menjabat Lahat, maka dapat dipastikan bahwa saat memimpin Sumsel nanti akan terjadi inventarisasi potensi-potensi wisata secara agresif, penuh semangat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel di depan mata akan ditantang untuk melakukan gerakan sistimatis untuk melakukan inventarisasi itu.

Dari langkah itu, Pemprov Sumsel akan merancang penganggarannya. Arahnya jelas: mengeksplorasi potensi wisata sebagai salah satu sumber pendapatan Pemda. Tapi, di mata Aswari, dimensi yang jauh lebih penting adalah kemanfaatan ekonominya bagi kepentingan masyarakat Sumsel. Karena itu, tidaklah mengherankan jika Sumsel ke depan dalam waktu relatif singkat akan menggeliat kegiatan ekowisata. Para pihak yang akan memanfaatkan pun akan bermunculan, mulai dari kuliner, souvenir, sarana dan prasarana seperti perhotelan dan atau penginapan. Bahkan, sektor angkutan pun akan mengalami permintaan yang menaik tajam.

Itulah gerakan pemanfaatan sektor wisata yang berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan dapat dipastikan bahwa sektor pariwisata menjadi bagian integral atau sektor yang terpisahkan dari format kebijakan pro pengikisan kemiskinan, yang kini masih cukup tinggi existingnya.

Kini, seluruh elemen masyarakat perlu menjawab dengan jujur, apakah ingin terkurangi beban ekonominya? Inginkah masyarakat Sumsel segera menaik pendapatannya atau ingin sejahtera? Pasti ingin. Itulah jawaban riilnya. Jika memang menghendaki kenaikan kesejahteraan, maka No. Urut 2 (pasangan Aswari-Irwansyah) adalah pasangan muda yang memang layak dilirik, lalu dipilih. Landasannya jelas: pengalaman dan komitmen pro kesejahteraan sudah dijabarkan secara konkret saat mereka memimpin. Salah satu bentuknya adalah kejelian dalam menangkap potensi ekonomi wisata sebagai bagian solusi yang memberikan arti nyata bagi kepentingan masyarakat.

 

(Penulis: Agus Wahid, Analis Sosial-Ekonomi dari Cyber House Indonesia)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: