Sumsel Pasca Pilkada: Tetap Bersatu Atau?

Sumsel Pasca Pilkada: Tetap Bersatu Atau?

Tak sedikit daerah menjadi pecah, penuh konflik. Juga, tak sedikit daerah tetap bersatu, tak terpengaruh adanya perhelatan pilkada per lima tahunan. Itulah kondisi politik pasca pilkada langsung di Tanah Air ini. Sebuah renungan, bagaimana potret politik Sumatera Selatan (Sumsel) pasca pemilihan Gubernur Wakil Gubernur tahun 2018 ini?

Dua potensi itu prahara dan tetap bersatu tetap ada. Kondisinya sangat tergantung dari pasangan mana yang menang. Jika kita amati pasangan-pasangan yang kini tampil, kedua potensi itu memang menampak jelas. Sebagian pasangan yang ada karena perseteruan yang menguat hingga kini maka, jika di antara pasangan ini yang tampil sebagai pemenang, sulit dihindari konflik horisontal. Di antara kedua kubu ini saling tidak rela jika satu sama lain menjadi pemenang. Dengan demikian, peta politik Sumsel ke depan akan dihantui prahara politik yang terus memanas.

Namun demikian, ada pasangan yang relatif tidak bermusuhan secara psikologis dengan para rivalis yang ada. Itulah pasangan ASRI (Aswari-Irwansyah). Kedua sosok ini relatif diterima oleh pasangan lain jika ASRI ini tampil sebagai pemenang. Landasannya secara politik dan etika kedua tokoh ini tidak suka menyerang lawan. Memang ada persaingan, namun ASRI lebih suka menampilkan perilaku politik santun. Tidak suka dengan black atau negative compaigne.

Sosialisasi yang dibangun ASRI adalah mengedepankan catatan faktual tentang terjemahan visi-misi dan reputasi yang pernah dilakukan. Dengan pendekatan ini, maka pasangan Aswari-Irwansyah dipandang oleh para rivalisnya sebagai mitra politik, meski dalam ranah kompetisi. Dari cara pandang ini, maka sangat kecil kemungkinannya untuk pecah atau konflik horisontal jika Aswari-Irwansyah tampil sebagai pemenang dalam pilkada Sumsel tahun 2018 ini.

Kondisi psikologis itu secara langsung atau tidak mengantarkan sosok Aswari-Irwansyah sejatinya bisa diharapkan sebagai tokoh pemersatu. Kini, masyarakat Sumsel perlu kita pertanyakan lebih jauh, relakah Sumsel porak-poranda pasca pilkada langsung? Tidak tidak. Jika memang tidak, maka pilihannya memang Aswari-Irwansyah.

Itulah pilihan bijak. Harus digaris-bawahi, masyarakat Sumsel tentu tak ingin wilayahnya dilanda ketegangan yang berlarut-larut hanya karena memaksakan jagonya memang, padahal jago tersebut jelas-jelas saling bermusuhan. Jika harus dipaksakan jagonya menang, maka rakyat Sumsel bukan hanya ketegangan atau suhu politiknya memanas, tapi dampak lain yang sungguh destruktif. Tidak tertutup kemungkinan, perang antar pendukung yang saling bermusuhan ini akan mendorong eskalasi konflik. Akibatnya, potret sosial-ekonomi kian mundur. Ketidakamanan pun terlihat di mana-mana.

Kini saatnya, pasangan Aswari-Irwansyah yang berpotensi besar sebagai pemersatu perlu dijadikan pilihan utama dalam pilkada Sumsel kali ini. Untuk masyarakat Sumsel itu sendiri, bukan pihak lain. Kondisi yang tetap bersatu ini akan menggiring Sumsel di bawah kepemimpinan Aswari-Irwansyah akan lebih cepat maju. Stabilitas yang terjaga akan menjadi modal utama dalam mengefektifkan kebijakan pembangunan di berbagai sektor di Sumsel ini. Kini masyarakat Sumsel perlu dipertanyakan lagi nuraninya, tetap menghendaki kedamaian dan keamanan pasca pilkada langsung? Jika jawabannya ya, maka hanya Aswari-Irwansyah yang dapat diharapkan sebagai Gubernur-Wakil Gubernur Sumsel 2018 2023. Selamat memilih pada hari penentuan itu.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: