Perayaan Imlek dan Pilkada Sumsel

Perayaan Imlek dan Pilkada Sumsel

Sudah menjadi hari besar nasional Indonesia sejak Gus Dus menjadi Presiden RI. Itulah Imlek, hari besar etnik China di negeri ini. Sejak itu, etnik China merayakannya secara terbuka. Yang menarik untuk kita catat, Imlek kemarin, hanya Aswari sebagai calon Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) yang menghadiri acara Imlek yang diselengarakan di tengah Sumsel itu, sementara kandidat gubernur lainnya absen.

Apa yang membuatnya hadir? Dapat dibaca dengan mudah. Aswari sadar, sebagai pemimpin memahami keberagaman (plurarilitas) masyarakat yang hidup di tengah Indonesia pada umumnya, dan Sumsel khususnya. Atas dasar pemahaman sosial-kultural itu, Aswari mengesampingkan perbedaan etnik, meski secara umum, etnik sering menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dengan suku-suku lainnya. Secara faktual, mereka cenderung eksklusif sikapnya.

Namun dmeikian, Aswari tetap berusaha menghargai realitas perbedaan sosial-kultural itu. Dan karenanya, Aswari — dengan tulus menghadiri perayaan hari raya umat China. Hal ini dari perspektif sosio-psikologis menunjukkan kedewasaan sosial. Dalam perspektif politik, kedewasaan sosial itu sungguh penting, karena dimensi utamanya adalah upaya melindungi seluruh lapisan masyarakat yang multietnik itu.

Dalam kontek kepemimpinan, kemampuan menghargai keberagaman bisa menjadi salah satu modal penting bagaimana merenda kebijakan yang efektif di tengah masyarakat yang beragam itu. Terkait dengan penghargaannya terhadap etnik China, hal ini bisa diterjemahkan secara riil dalam kaitan format kebijakan ekonomi. Sikap penghormatannya terhadap perasaan masyarakat China bisa dirancang sebagai akses sosial-ekonomi.

Tidak tertutup kemungkinan, konstruksi kebijakan ekonomi daerah bisa memberikan makna positif ketika memformulasikan kerjasama warga asli Sumsel dengan warga keturunan China. Selagi arahnnya positif untuk kepentingan warga asli Susmel, mengapa harus alergi saat berkolaborasi dengan etnic China itu. Inilah cara pandang atau berfikir positif kepada siapapun, termasuk warga China.

Sementara, Aswari tampak memahami pula akar historis masyarakat Sumsel. Sejarah mencatat, etnik China sudah cukup menyebar di tengah Sumsel sejak Kerajaan Sriwijaya eksis dahulu kala. Di antara etnik China yang hadir ke tengah Sumsel, tak sedikit yang membaur dalam ikatan pernikahan, sehingga terjadi keturunan antara penduduk asli Sumsel dengan mereka. Maka, masyarakat Sumsek dari masa lampau hingga kini sesungguhnya tak sedikut yang berketurunan China. Jika kita cermati warna kulit masyarakat Sumsel yang mayoritas putih atau kuning langsat, sejatinya tak lepas dari unsur gen China.

Atas dasar itu pula, Aswari dengan penuh sadar tak bisa mengabaikan keberadaan etnik China sebagai bagian dari nenek-moyang masyarakat Sumsel itu. Jadi, Aswari sebagai calon pemimpin Sumsel tampak pemahaman historil, di samping persoalan sosial dan kepemimpinan yang harus dilakukan saat mengemban amanah.

Mencermati sikap sosial-politik seorang Aswari, kiranya menjadi krusial jika masyarakat Sumsel, terutama etnik China mempercayakan amanah itu kepada seorang Aswari, bukan lainnya. Inilah calon pemimpin yang dapat diprediksi potensi keadilannya dalam memgayomi seluruh warna rakyat yang ada di tengah Sumsel.

Itulah makna reflektif dari keikhlasan seorang Aswari yang rela hadir acara Imlek yang tergelar di tengah Sumsel itu. Semoga, refleksi itu menjadi dasar untuk menentukan sikap politik menuju Sumsel baru. Aswari is the one candidat, not the others. Jangan salah pilih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: