Pemuda, Ke Mana Harus Melangkah Jauh

Pemuda, Ke Mana Harus Melangkah Jauh

Berikan aku sepuluh pemuda. Akan kuguncang dunia”. Itulah ucapan singkat Bung Karno yang cukup membahana di pentas sejarah perjuangan di Tanah Air ini. Sebuah upaya membangkitkan patriotisme pemuda untuk misi percepatan kemerdekaan bangsa dan negerinya? Lalu, mengapa Bung Karno tertuju kepada pemuda untuk misi kemerdekaan itu?

Secara psikologis, pemuda masih punya vitalitas tinggi, energik, punya cita-cita besar dan obsesif, penuh gelora dan berdaya panggil heroik. Itulah sebab, Bung Karno – dalam melibatkan semua elemen bangsa – menyisir kaum muda sebagai episentrum kekuatan untuk misi kemerdekaan bangsa-negara. Sungguh lihai sang proklamator kita dalam memahami jiwa kaum muda.

Sebenarnya, apa yang disuarakan Bung Karno merupakan pengamatan cermat terhadap realitas sejarah. Sebagai muslim, kita punya teladan yang paling baik (uswatun hasanah): Rasulullah. Muhammad – saat remaja, usia sekitar 15 tahun, sebelum Islam hadir – telah terlibat membela sukunya (Quraisy) dalam Perang Fijar. Sejarah mencatat, Muhammad remaja – di mata “angkatan perang” sukunya – dinilai luar biasa heroiknya. Gagah-berani dan diakui memberikan kontribusi besar terhadap kemenangan sukunya.

Di usia sekitar 25 tahun, Muhammad pemuda juga tampil lagi, tapi dalam jajaran perniagaan bersama kafilah Quraisy. Perniagaan musiman ke negeri Syam mencatat, pemuda yang bernama Muhammad mampu menunjukkan kepiawaian niaganya yang relatif mengungguli para “pebisnis” yang lebih senior. Dengan menerapkan prinsip kejujuran dan transparansinya,  membuat konsumen banyak yang tertarik untuk melirik dagangannya. Dan ternyata lebih cepat habis dibanding lainnya. Sebuah respon konsumen yang tidak pernah terjadi secepat itu sebelum Muhammad ikut serta dalam rombongan kafilah perniagaan.

Dan dalam usia sekitar 40 tahun, Muhammad yang dinilai sudah cukup matang secara mental mendapat tugas (risalah) dari sang Maha Pencipta untuk menjadi khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Misinya jelas: untuk menyelamatkan manusia, dari kebobrokan moral yang saat itu sudah demikian hancur, sangat biadab. Allah mengutus Muhammad untuk misi besar: mereformasi akhlak dan mental manusia yang sudah begitu hancur. Misi ini sejatinya menjadi fondasi utama untuk membangun peradaban baru dalam spektrum kejayaan, kemajuan secara mental dan fisik, kebahagiaan dunia-akherat. Itulah reformasi sekaligus revolusi mental sejati melalui al-Islam yang diamanahkan ke seorang Muhammad SAW.

Yang perlu kita garis-bawahi, Allah – sang Pencipta dan Pemilik Alam Semesta, the King of kings for all over the world  – mempercayakan amanah yang demikian besar itu kepada sosok Muhammad yang jelas saat itu dalam usia muda. Hal ini menggambarkan posisi dan peran pemuda memang luar biasa. Dan memang, sejarah lain –  di abad klasik ataupun modern – pun membuktikan jatidiri pemuda menjadi faktor dan aktor penting. Banyak panggung sejarah peradaban politik atau lainnya ditoreh pemuda. Semua itu tak lepas dari karakter dasar pemuda: energisitas, vitalitas, spirit patriotik dan sederet karakter yang menjadi pendorong kuat segudang keberhasilan dalam berbagai sektor kehidupan.

Kini, sebuah refleksi penting untuk kita semua sebagai pemuda, adalah bagaimana mengambil keteladanan Rasulullah dan atau sejumlah tokoh pemuda lainnya yang memang sukses dalam mengukir segudang prestasi. Tentu banyak bidang dalam panggung kehidupan ini. Masing-masing diri pemuda bisa menentukan pilihan, dalam jalur formal ataupun informal. Dalam wilayah prosedural birokrasi atau dunia kreatif. Mengambil posisi sebagai sang pemimpin atau unit pelaksana. Pilihan tak terbatas.

Sebagai pemuda – dengan sejumlah karakter dasar yang integrated dengan jatidirinya – berpeluang besar untuk menggapai sejumlah impian puncak. Untuk itu sudah selayaknya sang pemuda – demi cita-cita atau obsesinya – harus mempersiapkan diri. Bisa melalui lembaga pendidikan formal, terus mengasah kemampuan otak kiri sehingga terlahir karya-karya dan kinerja yang berbasiskan ilmu pengetahuan dan itulah urgensinya pendidikan yang siap mencerdaskan. Tak kalah pentingnya, mengasah kekuatan otak kanan yang siap lahirkan karya-karya kreatif terbaiknya berbasiskan keteguhan-kesabaran bereksperimen, mental baja yang harus dipelihara agar tak mudah menyerah. Dan satu lagi: perangai-perilaku yang dibungkus dengan akhlak terpuji (mahmudah) seperti kejujuran, sopan-santun, ramah. Inilah “resep” yang bakal menuntun pemuda menggapai puncak di bidangnya masing-masing. Inilah yang idealnya menjadi arah pemuda kini dan esok.

Idealnya, pemuda harus punya keterpanggilan untuk melangkah jauh ke alam angkasa sana. Idealitas itu – di satu sisi – untuk kebahagian individual diri pemuda itu sendiri. Di sisi lain, prestasi puncaknya akan memberikan manfaat bagi lainnya. Karenanya, tidaklah berlebihan jika muncul pemeo, “Masa depan bangsa-negara ada di tangan pemuda. Di sanalah, pemuda berkiprah. Di sana pula, bangsa-negara ikut menikmati pengabdian dan dedikasinya”. Itulah catatan faktual. Jika pemuda terpanggil memberikan karya-karya terbaiknya, maka akan terlihat derap kemajuan. Ketika terjadi kolosalitas keterpanggilan kaum muda, maka peran besar pemuda akan menjadi mercusuar yang memancar ke berbagai belahan. Di sana, bangsa-negara akan dilihat dunia.

Karena peran strategis pemuda itulah, atas nama rivalitas antarbangsa atau negara, sering muncul agenda bagaimana suatu bangsa menghancurkan bangsa lain. Dan strategi yang paling efektif untuk kehancuran bangsa lain adalah lapisan pemuda. Lapisan inilah yang perlu direkadaya agar rapuh  mentalnya, bebal otaknya dan tak punya gairah untuk beraksi. Juga, dirancang agar pemuda lebih tertarik pada dunia yang justru menimbulkan beban bagi banyak pihak. Setidaknya, pemuda dirancang agar tak bergairah untuk memberikan manfaat kepada pihak lain. Inilah agenda – antara lain – menyebarluaskan narkoba dan eksportasi budaya demoralisasi, di samping menghembuskan pemahaman-pemahaman sempit agar terjadi distorsi dalam sikap keberagamaan.

Tak dapat disangkal, negeri ini yang melimpah ruah sumber daya alamnya dan begitu besar jumlah penduduknya menjadi incaran banyak bangsa atau negara lain untuk memburunya. Dengan mempertimbangkan strategi yang efektif, maka pemuda kita menjadi target yang harus dihancurkan. Di sana kita saksikan sejumlah agenda banyak bangsa dan atau negara yang terus membidik pemuda Indonesia. Skenario penghancuran ini menjadi sejalan dengan kepentingan bisnis narkoba yang memang sangat menggiurkan. Juga, menjadi sejalan secara ideologis ketika ragam agenda penghancuran itu dalam bentuk demoralisasi sektor budaya, ekonomi, politik bahkan dunia pemikiran dan sikap keberagamaan.

Itulah skenario jahat yang – secara sistimatis – berpotensi besar akan menggulung bangsa atau negara yang dibidik. Karena itu, negara memang harus hadir untuk menghadapi sejumlah agenda penghancuran itu. Juga, semua elemen tanpa sekat yang mencintai negeri ini harus tersadar dan terpanggil untuk selamatkan pemuda. Demi masa depan pemuda, juga demi bangsa dan negara tercinta.

Kini, bagaimana strategi maksimal tapi efektif untuk melindungi pemuda dari incaran banyak pihak yang jahat itu? Negara dan elemen penyayang ini harus kreatif menciptakan sejumlah program kreatif yang mendorong pemuda tertarik dan tenggelam asyik dalam agenda positif itu. Diperlukan komitmen besar dan pengorbanan tersendiri untuk menghadirkan agenda atau program konstruktif itu. Juga, diperlukan pendekatan tersendiri yang membuat pemuda – secara alamiah – melirik dan akhirnya terlibat intens. Berbagai kebijakan harus dirancang yang arahnya jelas: memahami derap kepentingan pemuda, mendukung secara moral, politik dan finansial. Tentu semua itu secara mendidik. Harapannya satu: selamatkan pemuda. Untuk kejayaan bangsa dan negara. Pemuda harus mampu melangkah jauh dalam bingki penuh prestasi. Di Hari Pemuda Internasional ini layak kita kibarkan kata “Selamat Pemuda… Di pundakmu, masa depan bangsa-negara. Berikan yang terbaik untuk negeri ini…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: