Olahraga dan Pemuda di Mata Aswari Riva’i

Olahraga dan Pemuda di Mata Aswari Riva'i

Sudah cukup mendarah daging. Itulah sikap Aswari terhadap dunia olahraga, terutama beladiri Kempo. Bagaimana tidak, sejak 1978, putera asli Lahat ini sudah menekuni beladiri yang cukup keras itu. Ketekunannya berbuah manis: sering menjuarai turnamen Kempo, di Tanah Air, ASEAN bahkan kelas internasional, meski sebagai runner up.

Sebuah renungan, mengapa Aswari demikian menggemari olahraga keras itu? Karena dorongan suka berantam? Dalam perbincangan dengan sosok atlet Kempo ini, Aswari tegas-tegas menyatakan, olah raga yang cukup keras itu telah mencetak dirinya jauh lebih disiplin dan serius dalam berlatih, dan fokus atau konsentrasi penuh saat bertanding.

Aswari mencatat, serajin, sebaik dan sedisiplin apapun dalam berlatih, ia akan tersingkir dalam turnamen kalau dirinya tidak konsentrasi penuh. Juga sebaliknya, sekonsentrasi apapun saat bertanding, ia tak akan tampil terbaik jika sebelumnya tidak disiplin dalam berlatih.

Jadi, Aswari merasakan betul manfaat olahraga bahwa dalam hidup ini memang harus disiplin, menghargai waktu. Kalau Ali ibn Abi Thalib R.A menyatakan, waktu bagai pedang, memang waktu itulah yang siap atau akan memenggal kita jika tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Artinya, jika tidak disiplin dalam menghitung dan menggunakan waktu, maka akan banyak kegagalan yang dirasakan atau dihadapinya.

Sisi lain, sekalipun jenis olahraganya tidak terkategoti keras seperti senam atau jalan kaki, namun disiplin berolah raga akan menjauhkan kita dari penyakit fisik. Sangat banyak penyakit bermunculan hanya karena tak sadar pentingnya berolah raga. Jadi, olah raga sungguh penting untuk kita semua.

Dari sikap itu, Aswari jika Allah kehendaki tampil sebagai Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) dapat dipastikan akan sangat peduli terhadap dunia olahraga. Bukan semata-mata peduli atau perhatian, tapi bagaimana memfasilitasi perkembangan dan pengembangan dunia olahraga, baik yang bersifat santai atau olah raga keras yang memang harus ada program pelatihan dan lain-lain. Komitmen ini pun pada akhirnya diperjuangkan dalam bentuk anggaran. Arahnya jelas: membangun manusia Sumsel sehat tanpa pandang tua-muda-anak-anak, wanita-pria. Jika seluruh lapisan masyarakat Sumsel sehat, hal ini akan menjadi kontribusi besar bagi kepentingan pembangunan Sumsel. Inilah visi atau cita-cita yang harus dijadikan program strategis bagi kepentingan daerah dan penduduk Sumsel.

Dengan komitmen kuat pengembangan olahraga, maka kalangan pemuda akan menjadi bidikan utama. Arahnya bukan sekedar penyehatan semata, tapi bagaimana membangun prestasi, di lingkungan daerah, nasional bahkan internasional. Prestasi yang terukir kaum pemuda akan menjadi daerah dan atau negeri ini harum namanya. Itulah upaya sistimatis ketika kebijakan seputar olah raga dirancang-bangun lebih jauh.

Di sisi lain, Aswari juga menyadari tentang potensi bahaya kaum pemuda. Kita tahu, karakter pemuda adalah pencari jatidiri. Sebagian menyalurkan cara atau tindakannya secara negatif, seperti suka berantem dan buat onar. Inilah kondisi sosiologis pada umumnya di kalangan pemuda. Karena itu harus dicarikan jalan keluar yang pas. Dan pembinaan mereka melalui olah raga akan menjadi solusi yang bisa diharapkan itu.

Solusi itu untuk mencegah potensi kaum muda dari dunia kriminal atau hal-hal negatif umumnya. Sebagai rasa sayang terhadap generasi penerus, maka kebijakan pro pemuda tak bisa ditawar-tawar. Harus ada kepedulian ekstra, meski tetap peduli kepada lapisan lainnya secara adil dan merata. Keselamatan kaum muda akan menjadi kekuatan strategis bagi daerah. Itulah sebabnya, negara-negara lain tidak suka pemuda kita sehat lalu dicekoki narkoba dan penyakit-penyakit negatif lainnya.

Sebagai pemuda, harus kita lawan serbuan bangsa-bangsa lain yang akan melemahkan barisan pemuda Sumsel khususnya. Bersama kalangan sepuh sebagai orang-orang yang lebih berpengalaman, maka pemuda harus tegak menghadapi ancaman itu semua. Inilah jatidiri pemuda yang harus ditunjukkan. Dan pasangan Aswari-Irwansyah yang sama-sama muda tentu akan menjadi seirama-sejalan dalam menggandeng kaum muda. Sumsel ke depan memang harus di tangan kaum muda. Demi keselamatan pemuda, lapisan lainnya dan daerah yang tercinta ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: