Masyarakat Lahat: Di Antara Kekuatan-Kekuatan Asing

Masyarakat Lahat:  Di Antara Kekuatan-Kekuatan Asing

Zaman prasejarah dan sejarah awal abad Masehi sampai kisaran abad 12 Masehi cukup menggambarkan kebesaran Lahat dan sekitar. Sejumlah peninggalan purbakala sebagai karya-karya peradaban menunjukkan bukti kebesaran itu. Dan itulah yang membuat Lahat dan sekitarnya bagai mercusuar di mata “dunia” kala itu. Hal itu pula yang mendorong sejumlah “negara-negara adidaya” seperti dari Kerajaan Dinasti Ming, atau kerajaan-kerajaan lain dari semenanjung Arabia berkunjung ke negeri Lahat yang – menurut ahli sejarah – menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.

Catatan sejarah klasik itu sepertinya terus tertali dengan mata-rantai sejarah berikutnya, terutama di era kolonial. Di sekitar abad awal 20-an, bangsa-bangsa Barat memburu sumber rempah-rempah dari wilayah Timur. Dan tanah Nusantara menjadi bidikan utama. Dan kemercusuaran Lahat tanpaknya menjadi sorotan sejumlah bangsa pemburu rempah-rempah itu. Maka, sejarah mencatat, bangsa Belanda, Inggris dan kemudian Jepang – meski dengan motif beda – menancapkan kekuatannya di tengah Lahat dan sekitarnya.

Sejarah mencatat pula, Belanda tidak mudah mencengkram kekuatannya di tengah Lahat dan sekitarnya. Di samping faktor medan yang penuh jurang dan lainnya, juga faktor manusianya. Masyarakat Lahat dan sekitar – dalam menghadapi penjajahan Belanda – tak rela menyerahkan harga diri dan “kedaulatannya” ke tangan asing. Tekanan  Belanda justru mendorong daya juang yang luar biasa dari masyarakat Lahat dan sekitarnya, tak hanya mempertahankan tumpah darahnya, tapi juga keberanian mengusir dan menghabisinya.

Sikap patriotik yang sama juga ditunjukkan ketika kekuatan Jepang tampak mengganti kekuatan kolonial Belanda. Seperti catatan sejarah di berbagai daerah di negeri Nusantara, masyarakat Lahat dan sekitarnya pun angkat senjata terhadap kekuatan Jepang yang menguras seluruh kekayaan negeri ini.

Tekanan bangsa-bangsa asing tersebut membuat karakter masyarakat Lahat dan sekitar: yaitu pemberani, pantang menyerah, agresif bahkan punya jiwa sportivitas tinggi. Hal ini menjadi modal besar jika dikelola dengan baik (positif) dan maksimal. Bisa menjadi faktor yang bisa mempercepat kemajuan, baik untuk diri sendiri ataupun masyarakat pada umumnya. Kini, bagaimana karakter dasar (kepribadian) atau mental ini bisa diterjemahkan lebih nyata? Jika bisa, maka penempaan dirinya akan membawa dirinya bisa lebih cepat berkembang dan maju. Dan jika modal dasar ini dimanfaatkan untuk kepentingan publik atau hal yang lebih luas, maka hal ini akan membawa kemajuan pula bagi daerah. Di sanalah potensi kepemimpinan, dalam kontek wilayah Lahat dan sekitarnya, atau yang lebih luas lagi, katakanlah Sumatera Selatan pada umumnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: