Lahat dan Pembauran Budaya

Lahat dan Pembauran Budaya

Berangkat dari sejumlah peninggalan karya peradaban, para ahli pra sejarah meyakini, wilayah Lahat menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Memang, masih perlu digali lebih jauh validitas kesimpulan itu. Sebab, nama Kerajaan Sriwijaya selama ini lebih dikaitkan dengan wilayah Palembang sebagai wilayah pusat pemerintahan.

Jika memang pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya di Palembang, mengapa Lahat yang radius jaraknya sekitar 200-an km dari Palembang justru banyak ditemukan peninggalan-peninggalan yang bernuasa kerajaan? Lebih dari itu, mengapa Lahat banyak dikunjungi banyak kalangan dari wilayah Tiongkok, Arab, India dan orang-orang Melayu? Kehadiran mereka kian menguatkan posisi penting Lahat di mata “dunia”, terkait hubungan dagang, hubungan politik (diplomatik), bahkan misi belajar keagamaan. Al-kisah, tak sedikit “mahasiswa” asal Tiongkok – dalam rangka memperdalam ilmu kebudhaannya – sengaja “mesantren” ke Kerajaan Sriwijaya.

Yang menarik untuk kita telisik lebih jauh, kehadiran orang-orang asing itu kemudian menetap di wilayah Lahat dan akhirnya terjadi hubungan darah. Jika kita tengok dominasi warna kulit kuning yang menjadi warna kulit khas orang Tionghoa dan di sisi lain kita cermati dominasi warna kulit kuning dari orang-orang Lahat dan sekitarnya, maka hal itu semakin kuat tentang terjadinya hubungan darah di antara kaum pendatang dengan penduduk asli. Jika masih ada orang Lahat dan sekitarnya (Sumatera Selatan) yang berkulit lainnya, katakanlah sawo matang atau coklat pekat, hal itu juga menggambarkan kemungkinan hubungan darah dari kaum pendatang yang berunsur Melayu, Arab ataupun India.

Hubungan darah karena perkawinan antar-bangsa tidaklah dilarang. Tapi, satu hal yang cukup menarik untuk kita catat lebih jauh, dari hubungan daerah itu muncul juga pembauran budaya asing dan budaya lokal. Hal ini dapat kita cermati dari warna musik yang sebagian terkandung corak musik kearaban, kechinaan, bahkan melayu. Itu mencerminkan pembauran antarbudaya. Pembauran budaya juga dapat kita cermati pada sejumlah pakaian atau peralatan rumah tangga, sampai ke alat perang.

Yang cukup menonjol dari pembauran itu terlihat pada seni pahat Basemah seperti pahatan di Megalit Tergurwangi Lame. Dalam pahatan itu, dilukiskan tutup kepala yang berumbai-rumbai dan hiasan dalam bentuk bulatan-bulatan yang menyerupai perlengkapan pakaian orang Romawi. Pada arca-arca Megalit Basemah di Pulau Panggung (Sekendal), Tanjung Sirih, Muardue Gumay Ulu dan lain-lain tempat terdapat pahatan yang menggambarkan pakaian Ponco yang digunakan oleh suku-suku di Amerika. Sementara, di bagian kaki ada pahatan yang menggambarkan penutup kaki. Arca-arca Megalit Basemah banyak mengenakan pelengkap pakaian seperti adanya pahatan nekara perunggu, belati atau pedang. Pahatan itu menggambarkan alat-alat perlengkapan yang ada di daerah Don Son (Vietnam).

Kiranya, sejumlah peninggalan itu merupakan khazanah atau kekayaan budaya yang dapat kita jumpai di tengah Lahat dan sekitarnya. Sebuah khazanah yang layak disyukuri, dibanggakan dan harus dipeliharan. Satu kata yang dapat kita garis-bawahi, Lahat dan sekitarnya, sudah cukup dikenal oleh “mancanegara” sejak zaman purbakala. Dan sejalan dengan perkembangan waktu, terjadi proses pembauran (akulturasi) budaya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: