Ketika Rakyat Peluk Sang Pemimpin

Ketika Rakyat Peluk Sang Pemimpin

Hampir seluruh aparatur birokrasi Lahat menyalami dengan penuh haru. Bahkan, memeluknya erat-erat, berlinang air mata dan tak sadarkan diri lalu menetes membasahi pipi. Warga masyarakat lainnya yang hadir pun sama. Itulah suasana batiniah saat Aswari Riva`i berpamitan, menyerahkan tongkat kepemimpinan Lahat untuk cuti karena harus menempuh perjuangan lebih lanjut demi tugas yang lebih besar: menuju kursi Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel).

Kita perlu merenung, mengapa terjadi adegan dramatik itu: memeluk erat-erat dan menetes air mata yang membasahi pipinya? Semua itu tak lepas dari penilaian dan rasa dari seluruh pihak yang memang mencatat kinerja seorang Aswari dan – hal ini yang lebih mendasar – karena sikap dan perilakunya selama ini terhadap jajarannya dan masyarakat yang dipimpinnya.

Perlu kita catat, rakyat – secara alamiah – tak akan berani memeluk erat-erat. Merasa ada jarak karena posisi. Tapi, yang terjadi adalah hampir seluruh rakyat mendekap tubuh Aswari saat berpamitan itu. Hal itu karena dalam dirinya merasa sangat dekat dengan pemimpin yang dicintainya. Kualitas rasa dekat inilah yang mendorong rasa sungkan atau enggan hilang, lalu muncul keinginan besar untuk mendekap sang pemimpin. Lapisan rakyat ini begitu happy saat bisa mendekap pemimpinnya.

Rasa dekat itu – perlu kita garis-bawahi lagi – menggambarkan tiadanya jarak antara sang pemimpin dengan rakyatnya. Seperti satu kesatuan antara diri pemimpin dengan yang dipimpinnya. Dan inilah potret ideal dalam dunia kekuasaan antara penerima amanah (pemimpin) dengan yang menerima mandat atau amanah (rakyat). Jika potret hubungan sosial dan politik seperti itu terjalin terus dan terjadi di setiap panggung kekuasaan, maka dapat dipastikan daerah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Rakyatnya pun senang, senantiasa ikhlas dipimpinnya.

Ketiadaan jarak antara sang pemimpin dengan rakyatnya itulah sepertinya disadari seorang Aswari dalam mengemban amanat sebagai Bupati Lahat. Itulah fakta politik yang membuat kepercayaan publik meningkat tajam: mencapai sekitar 87% pada kepemimpinan Lahat untuk periode kedua.

Prinsip dan gaya kepemimpinan itulah yang pasti akan dikembangkan saat memimpin Sumsel nanti. Hikmahnya jelas tergambar: Provinsi Sumsel akan segera bangkit dan maju. Rakyatnya pun senang karena pemimpinnya demikian peduli, dari sisi sosial, ekonomi, keamanan dan sektor-sektor lainnya yang menjadi kewengan sang pemiimpin.

Jika masyarakat mendambakan kualitas kepedulian, maka tak perlu ragu lagi: Aswari-Irwansyah itulah figur yang layak untuk diberi amanah (mimpin) Sumsel, bukan lainnya. Juga, jika masyarakat Sumsel menanti kemajuan daerahnya, maka hanya satu opsi: pasangan asal Lahat dan Pangkalpinang itu. Jangan sekali-kali ragu dan jangan mau rugi akibat kekeliruan memilih.

Lima tahun mendatang di tangan kalian, apakah Sumsel akan maju pesat dan senang warganya, atau kembali redup dan merana. Jika cerdas, memang pasangan Aswari-Irwansyah itulah figur yang harus dipegang erat, jangan mau digoyahkan meski ada badai uang yang akan mengguyur. Ingat, salah pilih akan memasung kalian selama lima tahun mendatang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: