Jangan Abaikan Kepentingan Pedesaan

Jangan Abaikan Kepentingan Pedesaan

Kembali membuka data BPS terkait kemiskinan masyarakat Sumsel di wilayah pedesaan. “Bagi saya, perlu dibangun format kebijakan yang tepat untuk mendorong terjadinya proses pengentasan kemiskinan di pedesaan. Yang perlu ditatap adalah karakter ekonomi masyarakat perdesaan. Dengan dominasi pedesaan yang lekat dengan alam pertanian dan perkebunan, maka corak kebijakannya pun haruslah seirama dengan dunia pertanian dan perkebunan”, ujar Bupati Lahat, Aswari Rifa`i saat berbincang-bincang dengan komunitas petani Lahat dan beberapa daerah lainnya.

Di antara kebijakan yang langsung menyentuh kepentingan mereka – lanjut Aswari – di antaranya, pembenahan infrastruktur, terkait jalan sebagai akses cepat mobilisasi barang dari sentra-sentra produksi sampai ke wilayah pasar. Tak kalah krusialnya adalah infrastruktur yang menunjang proses produksi tanaman. Maka, pembenahan irigasi (primer, sekunder ataupun tersier) harus mendapat perhatian ekstra.

Terkait dengan perbaikan infrastruktur itu, pemerintah daerah juga harus cermati bagaimana membangun mental pera pihak yang berlaga di sektor pertanian dan atau perkebunan. Maka, sumber daya manusia (SDM) juga menjadi bagian yang tak boleh diabaikan. Peran mereka perlu dirancang sebagai faktor yang mensukseskan sektor pertanian dan perkebunan. Karena itu peran seperti peyuluh pertanian atau konsultan pendamping juga menjadi bagian integral dari misi pembebasan kemiskinan wilayah pedesaan.

Sementara itu, atas nama misi pembebasan itu, Pemda juga dituntut bagaimana mengendalikan harga produk pertanian dan atau perkebunan. Campur tangan pemerintah menjadi bagian yang tak terpisah dari daya tahan kalangan petani untuk tetap menekuni sektornya. Dalam hal ini Pemda kiranya perlu membangun sejumlah gudang, yang idealnya harus ada di setiap kabupaten. Jika produknya hortikultura, maka Pemda perlu menghadirkan gudang-gudang pendingin. Juga, perlu hadirkan outlet di setiap kabupaten/kota sebagai arena eksebisi sampel setiap produk. Masing-masing pihak dapat menyampaikan contoh-contoh komoditas pertanian dan atau perkebunannya ke outlet itu. Konsekuensinya, stok barang perlu tersedia manakala ada permintaan pasar.

“Selanjutnya, Pemda perlu merancang kebijakan yang mampu mendorong masyarakat bermain di sektor pasca produksi. Para pelakunya tidak harus petani itu sendiri, tapi berada di seputar komoditas pertanian dan atau perkebunan. Ketika bahan baku komoditas pertanian, misalnya, ia atau mereka bisa mengambil peran bagaimana menciptakan produk itu dengan sentuhan nilai tambah dalam bentuk olahan”.

Sektor olahan pangan – di satu sisi – menjadi sektor yang bisa melibatkan siapapun asal berminat dan serius menekuni sisi bisnisnya. Hal ini – secara prediktif – akan menjadi sumber pendapatan yang tak terkira sebelumnya. Di sisi lain, rekayasa produk pasca panen ini juga memberikan nilai tambah pada setiap komoditas. Tak akan ada cerita harga anjlok karena kualitas barang menurun. Dengan demikian, panen raya tidak akan menjadikan harga drop, karena sebagian yang tak terserap oleh pasar dapat diambil untuk bahan baku olahan.

“Ketika masyarakat pedesaan mengambil peran besar sektor pasca panen, hal ini akan menjadi harapan besar: kemiskinan pedesaan – secara terencana – bisa terkoreksi (terkurangi) secara signifikan. Maka, tidaklah berlebihan jika spirit kemerdekaan bangsa dan negeri ini bisa kita terjemahkan secara konkret: masyarakat Sumsel segera bebas dari makhluk kemiskinan. Insya Allah”, ujar Aswari optimis setelah dipercaya memimpin Sumatera Selatan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: