Batu Jadi Emas (Part 2)

Batu Jadi Emas (Part 2)

Alkisah, nama Aswari cukup berkibar sebagai kontraktor, bukan hanya di Lahat, tapi di Sumsel. Sebuah nama yang tak pernah terpikirkan jauh sebelumnya. Bahkan jika ingat ayah dulu saya dikritik habis ketika mengambil pilihan bisnis dengan sumber bahan baku batu. Beliau sebagai orang berada menghendaki putera bungsunya (Aswari) menjadi PNS atau birokrat. Tapi, naluri bisnisku tak sejalan dengan harapan atau keinginan sang ayah. Dengan segala hormat, saya sampaikan, bisnis di sektor batu cukup menjanjikan. inilah batu, yang akan kujadikan emas untuk manapaki jalan hidupku ke depan.

Alhamdulillah, Allah memberi jalan yang sangat mulus: bisnis berkembang pesat. Bagi Aswari, inilah bagian dari cara mensyukuri karunia Allah atas apa yang diciptakan Allah. Satu hal penting dalam mengepresikan rasa syukur adalah berpikir kreatif dan kemauan mengelola dengan penuh disiplin, gigih. Tata kelolanya haruslah dengan prinsip managemen modern, bukan asal-asalan. Berarti, harus jelas keluar-masuk barang dan keuangan. Inilah ilmu dan pengetahuan yang kudapatkan dari bangku kuliah.

Sebagian pihak sering mempertanyakan seputar kemauan bisnisnya. Yah, inilah yang dia syukuri juga dari orang tua. Beliau sebagai orang “berada” dan tentu sangatlah mampu untuk mengirim bekal yang cukup saat kuliah di Jakarta. Tapi, beliau justru secara tak langsung seperti mengajari anak bungsunya. Hidup di perantauan harus prihatin, apalagi yang sedang mencari ilmu. Karenanya, jatah bulanannya pun terbatas. Justru, dengan keterbatasan kiriman uang, membuatku bersikap: bagaimana harus bertahan hidup dan kuliah. Inilah yang dulu membuatku jualan pakaian di seputat Pasar Tanah Abang. Inilah catatan pengalaman bisnis, yang ternyata menjadi bekal dasar dalam mengarungi dunia bisnis.

Mental yang tertempa semasa sulit menumbuhkan kekuatan batin untuk tetap bertahan dan harus hidup sukses. Jadi, apa yang kunikmati hari ini mulai dari bisnis batu, dunia kontraktor dan akhirnya pensiun karena harus beralih menjadi pelayan masyarakat semua tak lepas dari cara orang tua mendidik. Tentu, doa kedua orang tua yang terus menyertai putera-puterinya, termasuk anak bungsunya ini.

Yang tak pernah dilupakan, keluarga besarnya pun sempat memperolok ketika Aswari harus mengakhiri dunia bisnis untuk sebuah misi: menjadi pelayan rakyat. Maklum, pada tahun 2000-an, Aswari lagi dalam posisi puncak. Kembali lagi, inilah perbedaan cara pandang. Ketika menjadi pengusaha, tak bisa memberi banyak untuk berbagai kalangan. Tapi, ketika menjadi pelayan, banyak hal yang dapat kuberikan untuk masyarakat luas. Inilah yang dicita-citakan Aswari dari dulu. Keinginan memberi yang terbaik dan dalam skala lebih luas selalu ada di hati sanubari Aswari ini. Karena itu, kejayaan bisnis yang diperoleh harus diterjamahkan dalam bentuk rasa syukur yang lebih berarti bagi masyarakat. Dan itulah rasa syukur yang Aswari tunjukkan sebagai pelayan rakyat.

Dengan menjadikan diri sebagai pelayan masyarakat, maka bukan hanya batu yang diubah menjadi emas, tapi sumber-sumber daya alam lainnya yang juga bisa dirancang menjadi emas. Emas akan berhamburan di mana-mana. Menjadi pemandangan yang menghiasai masyarakat Lahat dan lebih luas lagi: Sumsel. Itulah emas-emas yang harus diciptakan secara serius. Wujud konkretnya? Kesejahteraan, yang tak boleh ditawar-tawar di tengah Sumsel ini. Makanya, menjadi pemimpin untuk Sumsel adalah cara efektif untuk bisa menghamparkan emas-emas itu. Semoga Allah meridhai.

(Penulis: Agus Wahid, Analis sosial-Ekonomi Pembangunan dari Cyber House Indonesia)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: