Aswari Riva’i: Pentingnya Menjaga Kearifan Lokal Untuk Pembangunan

Aswari Riva'i: Pentingnya Menjaga Kearifan Lokal Untuk Pembangunan

LAHAT – Tak banyak daerah di Indonesia yang mampu menerapkan pembangunan dengan tetap menjaga kearifan lokal. Semangat inilah yang senantiasa digelorakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat yang dipimpin H. Aswari Riva’i dan terbukti berhasil.

“Kearifan lokal mutlak harus dijaga dan masyarakat juga mesti dilibatkan dalam setiap pembangunan yang dilakukan. Karena, tanpa peran aktif masyarakat mustahil pembangunan di suatu daerah dapat berjalan optimal,” kata Bupati Lahat H. Aswari Riva’i, saat diskusi di Redaksi salah satu media Nasional beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Kak Wari ini melanjutkan, salah satu kearifan lokal yang hingga kini senantiasa terjaga dan turut mewarnai derap pembangunan di Kabupaten Lahat, adalah semangat gotong royong dan bersilaturahmi.

Karena memegang teguh kearifan lokal inilah, ujar Kak Wari, tak heran jika saat melakukan pembangunan, pihaknya dalam hal ini Pemkab Lahat hampir tak menemui hambatan berarti. Ini mencontohkan, saat pihaknya membangun infrastruktur berupa jalan, masyarakat yang dipimpinnya tak segan menghibahkan tanah.

“Di mana coba, ada masyarakat yang secara sukarela menghibahkan tanahnya untuk dibangun jalan. Dan, jalan yang dibangun ini tak main-main loh, panjangnya hingga 168 km,” kata Aswari.

Sebagai pemimpin, Aswari mengaku sangat menyadari betul, bahwa masyarakat yang dipimpinnya tak hanya butuh pembangunan. Masyarakat juga butuh sentuhan. Itulah pentingnya seorang pemimpin bersilaturahmi dengan masyarakatnya.

“Silaturahmi ini juga bukan hanya saat senang saja. Yang lebih penting lagi, pemimpin itu hadir saat masyarakat tertimpa musibah, seperti musibah kematian,” ujar Aswari.

Khusus untuk musibah kematian, lanjut Aswari, pihaknya semaksimal mungkin menyempatkan hadir di tengah masyarakat yang tertimpa musibah dan berupaya memberi bantuan.

Sampai-sampai, bupati yang sudah dua periode menjabat ini dijuluki Bupati ‘Ayam’. Julukan ini disematkan, lantaran di setiap musibah kematian, dirinya selalu memberi bantuan ayam di samping bantuan berupa uang santunan.

“Bantuan ini memang tak seberapa. Tapi, program ini sangat didambakan karena tak sedikit warga kesulitan saat ada sanak keluarga meninggal. Dengan bantuan ayam dan sedikit uang santunan, tentunya warga sangat terbantu hingga tak perlu berutang saat ingin menggelar takziah,” katanya.

Sementara untuk program lain, selama delapan tahun menjabat, Aswari berfokus kepada pembangunan infrastruktur jalan desa, pendidikan, kesehatan, pertanian dan tak ketinggalan penerangan (listrik). Khusus listrik, saat ini sudah dibangun PLTU Keban Agung yang merupakan PLTU mulut tambang berkapasitas 2 x 135 MW.

Proyek pembangkit listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) tersebut dibangun oleh PT Primanaya Energi berdasarkan IUKU-Sementara nomor 407-12/20/600.3/2007 tertanggal 29 Oktober 2007, dengan investasi USD230 juta.

Keberadaan PLTU Keban Agung sendiri sebagai upaya untuk menjawab tantangan kebutuhan listrik di wilayah Sumsel yang dalam lima tahun terakhir pertumbuhannya sebesar 11,3 persen.

Diharapkan pula PLTU Keban Agung salah satu yang dapat membantu pemerintah dalam merealisasikan target proyek energi listrik sebesar 35.000 MW hingga 2019. “Saya meyakini ke depan Lahat akan menjadi daerah industri dengan listrik melimpah,” tegas Aswari.

Selain memacu infrastruktur, pihaknya juga mengakselerasi bidang-bidang lainnya, seperti pariwisata, perekonomian, kebudayaan, termasuk mengoptimalkan  sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Lahat.
Begitu pun promosi wisata sejarah berupa megalitikum dan kawasan wisata alam Bukit Jempol (Bukit Serelo) yang menjadi ikon Kabupaten Lahat juga terus digalakkan.

Bahkan, kabupaten berjuluk Seganthi Setungguan, ini ternyata diam-diam memiliki hampir 100 air terjun, dengan lokasi yang sangat mudah dijangkau.

“Waktu pertama menjabat (Bupati Lahat) tahun 2009, APBD Lahat hanya Rp750 miliar. Sekarang APBD kita sudah Rp2 triliun. Investasi juga sudah sangat banyak. PLTU mulut tambang di Keban Agung itu saja investasinya USD230 juta. Belum lagi proyek-proyek lainnya,” ujar penerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia, 2016 ini.

 

(Via: Harian Silampari)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: