Aswari Riva`i: Ibu, di Tanganmu, Terwujud Peradaban

Aswari Riva`i: Ibu, di Tanganmu, Terwujud Peradaban

“Entah seperti apa dunia ini jika tanpa sosok manusia yang bernama ibu. Gelap dan pasti, tak akan pernah ada cerita yang namanya peradaban. Bagaimana tidak? Melalui rahim Sang Ibu, lahir generasi. Generasi inilah dengan berbagai kepentingan dan tempaan melahirkan sejumlah karya, di antaranya peradaban umat manusia, papar Aswari Riva`i secara filosifis.

Karana itu papar Bupati Lahat dua periode yang siap melangkah ke kursi Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) ini Allah pun memerintahkan agar seluruh umat manusia, terutama yang berstatus anak, meski dirinya sudah tua untuk menghormati keberadaan sang ibu yang memang melahirkan. Dengan tegas, Allah yang Maha Agung melarang keras untuk bersikap kasar kepada sosok yang telah melahirkannya ke gerbang dunia.

Sebagai Penguasa dan pemilik jagad raya saja memerintahkan untuk menghormati ibunya. Sang ibu di mata Allah adalah sosok luar biasa. Maka, kita sebagai makhluk-Nya yang beriman sudah tentu harus melakukan perintah-Nya, paparnya lagi.

Kini, apa yang idealnya harus lakukan kepada Sang Ibu? Menghormati dalam bentuk mencium tangan ataupun kakinya memang sebuah bentuk penghormatan dan itu layak harus kita lakukan. Namun demikian, apa yang jauh lebih subtantif untuk dilakukan. Inilah yang kadang sering kita lengah atau tidak tahu, ujar Aswari sembari menegaskan bahwa kita sedapat mungkin jangan sampai melukai perasaan ibu sekecil apapun. Kita harus perhatikan apa yang diinginkan sang ibu, sekalipun tidak terucapkan. Sikap peduli maksimal terhadap sang ibu mutlak harus dilakukan.

Landasannya? Jika ibu senang, ridha kepada kita, maka Allah pun ridha. Dan inilah kata kunci sukses hidup kita di bumi ini, bisa di dunia ini atau di alam akhir nanti. Jadi, jika kita ingin sukses di bidang apapun, maka hormatilah ibu. Sayangi ibu sepenuhnya, bukan basa-basi. Jika beliau talah tiada, maka doakan untuknya secara rutin. Kunjungilah makamnya. Hal ini pun dianjurkan Rasulullah. Bagi penziarah makam, di satu sisi kita diajak untuk selalu ingat kematian. Di sisi lain, di makam itu, kita seperti berdialog dengan almarhumah, ujar Aswari yang memang tercatat sangat hormat kepada sang bundanya, di samping ayahandanya sebagai sama-sama orang tua.*** (Abu Hailal)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: