Aswari Riva’i Bicara Soal Kedaulatan Energi

Aswari Riva'i Bicara Soal Kedaulatan Energi

PALEMBANG – Perekonomian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Perekonomian global, belum stabilnya harga komoditas serta situasi dalam negeri merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan optimisme dan pertumbuhan investasi demi kedaulatan bangsa.

KORAN SINDO dan SINDOnews.com mengajak sejumlah tokoh penting dari berbagai bidang, Selasa (31/01) hari ini untuk berbicara dalam seminar Indonesia Economic Outlook (IEO) 2017 di Grand on Thamrin Pullman Hotel, Jakarta. Seminar sehari ini terdiri dari tiga bagian dengan pembicara mulai dari Menteri, Dirut BUMN, petinggi BI hingga praktisi ekonomi lainnya.

Selain itu, dari Sumsel hadir untuk berbicara banyak tentang kedaulatan energi, yakni Bupati Lahat H. Aswari Riva’i. Adapun rincian seminar IEO 2017 hari ini yakni, economic outlook dengan tema “Optimisme di Tengah Keberagaman Tantangan” dengan pembicara Juda Agung, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Agus Susanto, Dirut BPJS Ketenagakerjaan, Elin Waty, Dirut Sun Life Financial Indonesia, Kartika Wirjoatmodjo, Dirut Bank Mandiri dan Asmawi Syam, Dirut Bank BRI.

Mereka akan berbicara mengenai membangun optimisme di tengah kompleksitas tantangan dengan moderator Dr. Avialiani, Pengamat Ekonomi. Berikutnya tentang industry outlook. Pada seminar dengan moderator Prof. Firmanzah, Rektor Universitas Paramadina ini dihadirkan dua pembicara yakni Airlangga Hartanto, Menteri Perindustrian dan Basuki Hadimuljoni Menteri PU dan Perumahan Rakyat.

Nah, pada seminar ketiga tentang energy outlook dengan tema “Memacu Investasi demi Mewujudkan Kedaulatan Energi” menghadirkan mereka yang memang telah berbuat dan menguasai bidang ini. Mereka yakni Bupati Lahat H. Aswari Riva’i, Nicke Widyawati, Direktur Perencanaan Korporat PLN, Archandra Tahar, Wamen ESDM dan Suyoto, Bupati Bojonegoro. Adapun moderatornya Dinna Wisnu, pengamat hubungan internasional.

Bupati Lahat, H. Aswari didaulat menjadi pembicara, karena Aswari telah berhasil melakukan hal tersebut. Sejumlah pembangkit besar telah berdiri dan beroperasi di Lahat, dengan nilai investasi yang besar. Sebut saja ada PLTU Banjarsari, yang disebutkan mulut tambang pertama dan terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 2×110 MW.

“Itu yang kami lakukan (membangun), di Lahat tidak ada mal atau apa, tapi kami membangun kebutuhan masyarakat. Bangun jalan, pembangkit listrik. PLTU itu untuk mengatasi agar tidak perlu pusing mengangkut batu bara keluar Lahat,” ujar Aswari dalam banyak kesempatan. Tidak hanya PLTU Banjarsari. Ada lagi PLTU Keban Agung dengan kapasitas 2×135 MW.

Proyek pembangkit listrik swasta atau independent power producer (IPP) tersebut dibangun oleh PT. Primanaya Energi berdasarkan IUKU Sementara Nomor 407-12/20/600.3/ 2007 tanggal 29 Oktober 2007 dengan investasi USD 230 juta. Tidak hanya itu, PLTU ini akan dikembangkan kembali menjadi 4×135 MW menyusul tingginya pertumbuhan kebutuhan listrik nasional.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: